Desa Banyuresmi adalah bagian dari Kecamatan Banyuresmi yang terletak sekitar 13 km dari pusat Kota Garut. Nama Kecamatan Banyuresmi lebih dikenal karena keberadaan beberapa desa penting dan objek wisata seperti Situ Bagendit. Kecamatan ini menjadi bagian dari administrasi Kabupaten Garut dan berfungsi sebagai pusat kegiatan agraris dan budaya di wilayah sekitarnya.
Perlu kami utarakan bahwa Desa Banyuresmi merupakan desa hasil penggabungan dari tiga desa yaiutu Desa Cikananga, Desa Cikawao dan Desa Cipicung dan ketiga Kepala Desa tersebut mendapatkan kehormatan dari Pemerintah dengan diberinya gelar Lurah Hormat serta diberi bisluit dari Residen Priyangan sekitar tahun 1922. Masih pada tahun tersebut gabungan ketiga desa tersebut diberi nama dengan Nama Desa Sukamaju dengan Kepala Desanya ialah Bapak Wangsa Guna. Pada Tahun 1932 nama Desa Sukamaju diganti menjadi Desa Banyuresmi sampai sekarang dan pusat pemerintahan Desa Banyuresmi ditetapkan di Kp. Parigi.
Nama-nama yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa :
1. Sumawinata (1931-1948) Kepala Desa
2. Danu Miharja (1948-1949) Kepala Desa
3. Djaya Disastra (1949-1952) Kepala Desa
4. Sanusi (1952-1954) Pjs. Kepala Desa
5. Eno (1954-1958) Kepala Desa
6. Udamas (1958-1959) Pjs. Kepala Desa
7. Emmed Achmad (1959-1966) Kepala Desa
8. Udamas (1966-1970) Kepala Desa
9. Irun Masrun (1970-1973) Pjs. Kepala Desa
10. Rd. Ule Abdullah (1973-1976) Kepala Desa
11. Aten Somantri (1976-1980) Pjs. Kepala Desa
12. U. Hidayat (1980-1989) Kepala Desa
13. Sumantri (1989-1990) Pjs. Kepala Desa
14. U. Hidayat (1990-1998) Kepala Desa
15. Nandang Sutisna (1998-2000) Kepala Desa
16. Wawan Ridwan, S.Ag (2000-2008) Kepala Desa
17. Deni Permana (Selama 4 Bulan pada Tahun 2008) Pjs. Kepala Desa
18. Wawan Ridwan, S.Ag (2008-2014) Kepala Desa
19. Deni Permana (2014-2015) Pjs. Kepala Desa
20. Ahmad Hidayat (2015-2021) Kepala Desa
21. Ahmad Hidayat (2021- sekarang) Kepala Desa
Wilayah Kecamatan Banyuresmi — khususnya beberapa desa seperti Cimareme — tercatat mengalami peristiwa perlawanan terhadap penjajah Belanda pada awal abad ke-20. Ada catatan lokal dan tradisi lisan yang menyebut peristiwa 1918–1919 sebagai masa ketegangan dan perlawanan di sekitar Situ Bagendit dan desa-desa sekitar. Peristiwa-peristiwa ini menjadi bagian penting narasi lokal tentang perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.
Salah satu ciri wilayah Banyuresmi adalah keberadaan Situ Bagendit, danau legenda yang menjadi pusat pariwisata dan budaya di kawasan ini. Situ Bagendit tidak hanya penting sebagai sumber penghidupan (perikanan kecil, rekreasi), tetapi juga kaya legenda rakyat yang diwariskan turun-temurun—cerita Nyai Bagendit misalnya—yang menambah nilai budaya dan daya tarik wisata.